Seni dapat mengartikulasikan dan menyebarkan informasi dan nilai-nilai inovatif. Ia juga bisa memberikan jalur alternatif untuk kita menjadi lebih humanis. Dengan demikian, seni dapat menyediakan pilihan dan kepekaan akan potensi yang dimiliki masing-masing pribadi (Horne, 1988).

Pemaknaan seni itu sangat tepat untuk dapat mendefinisikan korelasi antara seni dan manusia. Sebagai contoh, seni wayang kulit dalam budaya Jawa tak semata menceritakan pahit-manis kisah peperangan keluarga Pandawa-Kurawa, tetapi lebih dari itu menjadi sebuah alat bertutur antargenerasi untuk menularkan nilai-nilai budaya. Maka, tak mengherankan, di beberapa komunitas tertentu wayang kulit masih berdaya magis dan sering digunakan sebagai media upacara ritual.

Bila diamati secara kontekstual, sebenarnya mata pelajaran pendidikan seni budaya merupakan mata pelajaran yang sangat fleksibel. Di dalamnya terkandung muatan nilai humaniora yang sangat berguna untuk merangsang kreativitas berpikir bagi peserta didik untuk semua cabang disiplin ilmu.

Namun, sampai saat ini stigma pendidikan seni budaya masih dipandang sebagai mata pelajaran komplementer yang bukan merupakan skala prioritas. Bahkan, banyak yang meremehkan dan menganggap tidak urgen bila dikomparasikan dengan mata pelajaran lainnya, seperti mata pelajaran eksakta dan ilmu sosial. Namun, dalam proses perjalanan waktu, sekarang banyak orang yang menyadari bahwa keunggulan seseorang bukan semata-mata ditentukan oleh IQ (intelligence quotient). Dengan IQ tinggi memang seseorang dapat mempunyai daya cipta. Namun, perlu juga disadari yang dibutuhkan untuk hidup bukan hanya kecerdasan menciptakan sesuatu, tetapi juga kecerdasan emosional.

Kecerdasan ini sering dikenal dengan EI (emotional intelligence). Resultansi penelitian belakangan ini menyebutkan bahwa orang yang memiliki IQ biasa-biasa saja, tetapi memiliki EI tinggi, tingkat keberhasilan hidupnya dapat lebih baik ketimbang mereka yang memiliki IQ tinggi dan EI rendah (Majalah Gerbang: ed 12, tahun 2005).

Sumber: Kompas.com dengan judul “Jangan Remehkan Pendidikan Seni Budaya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *